Insiden Antiokhia

yang diberitakan kepada bangsa-bangsa non Yahudi.

Ia baru saja menceritakan perjalanannya ke Yerusalem untuk berjumpa dengan sokoguru Jemaat Mesianik di sana. Ia dengan gembira melaporkan bahwa Titus tidak dipaksa untuk bersunat. Pengalaman ini diceritakan kiarena saat itu belum ada Sidang di Yerusalem yang memutuskan hal ini.

Insiden Antiokhia (2:11-14)

Jemaat Antiokhia yang berdiri akibat penginjilan Paul dan Barnabas berkembang pesat sehingga menjadi Jemaat kedua terpenting sesudah Jemaat Yerusalem. Umat di Antiokhia rindu untuk mendalami iman dengan lebih mengenal Mesias Yeshua. Karena itu mereka mengundang Petrus yang dikenal murid yang sangat dekat dengan Yeshua. Selama Petrus di sana ia bergaul erat dengan jemaat bangsa-bangsa, merayakan sabat, hari raya, makan dan minum bersama baik dengan orang Yahudi maupun bangsa-bangsa. Petrus menikmati persaudaraan dengan bangsa-bangsa dalam Mesias.

Perlu diingat, bahwa wahyu untuk membawa Injil kepada bangsa-bangsa pertama kali datang kepada Petrus, bukan kepada Paulus. Petrus yang diberi penglihatan binatang tamei di atas jubah dan perintah untuk menyembelih dan memakannya. Ini sesuai dengan kunci kerajaan yang diberikan kepada Petrus, baik kunci kepada Israel, maupun kunci kepada bangsa-bangsa.

Namun suatu hari datanglah orang tertentu dari Yaakov datang ke antiokhia dan sejak itu Petrus memisahkan diri dari jamuan makan bersama dengan jemaat non Yahudi karena takut kepada golongan bersunat. Umat Yahudi yang bersama dia juga mengikuti langkahnya, turut memisahkan diri. Melihat gejala ini merupakan pengingkaran terhadap kebenaran injil ini, Paulus berdiri di hadapan orang banyak dan menegur Petrus secara langsung, tatap muka.

Tafsir Tradisional di lingkungan Kristen

Perikop ini biasanya digunakan sebagai pembuktian bahwa Paulus dan orang Yahudi percaya bersamanya telah meninggalkan pelaksanaan Torah dan Yudaisme. Ketika Paulus melihat Petrus melakukan beberapa aspek Torah seperti hanya mau makan dengan sesama Yahudi dengan memisahkan diri dari jamuan makan bersama, ia menegurnya karena hal ini merupakan tindakan kembali ke torah dan Yudaisme. Isu sesungguhnya bukan Torah tetapi persekutuan meja (table fellowship) yang merupakan ranah halakha (Tafsir rabbinik dalam pelaksanaan torah) dan bukan torah itu sendiri.

Persekutuan Meja menurut Sumber Rabbinik

Secara umum dipahami bahwa dalam Yudaisme abad 1 aturan yang berlaku melarang keras orang Yahudi yang saleh untuk makan bersama dengan bangsa-bangsa non yahudi. Sepulangnya dari rumah Kornelius di Kaisaria, Simon Kefa ditanyai golongan bersunat karena masuk ke rumah dan makan bersama dengan goyim (KR 11:2-3).

Namun, evaluasi terhadap Yudaisme abad 1 menunjukkan bahwa tidak terdapat terdapat aturan yang secara akurat melarang keramah-tamahan antara yahudi dan non yahudi. Mishnah dalam Avodah Zera 5:5 dibaca:

jika [seorang israel] makan dengan [non yahudi] bersama di meja, meninggalkan sebotpl [anggur] di atas meja dan sebotol lainnya di tepi meja, tinggalkan dia dan pergilah keluar apa yang di atas meja dilarang tetapi yang ditepi meja diizinkan. Ini sesungguhnya bentuk aturan untuk menghindari penyembahan berhala, botol yang di tengah yang umumnya digunakan untuk pencurahan anggur kepada berhala. Ada indikasi makan bersamanya diperkenankan.

Tetapi ada juga pendapat yang berbeda. Dalam Talmud Avodah Zarah 4:6 dbaca: R Shimon ben Eleazar berkata, Orang israel di luar Israel menyembah Tuhan dalam kemurnian. Bagaimana? Jika orang non Yahudi menyiapkan pesta pernikahan untuk anaknya serta mengundang semua Yahudi di kotanya sekalipun mereka membawa makanannya sendiri dan membawa hamba untuk menjagainya, mereka menyembah berhala, mereka menyembah berhala. Karena dikatakan: Jangan engkau mengadakan perjanjian dengan penduduk negeri itu ... mempersembahkan korban kepada ilah mereka, maka mereka akan mengundang engkau dan engkau ikut makan korban sembelihan mereka(Kel 34:15). Jelas datang dengan membawa makanan sendiri sudah menyembah berhala, apalagi makan bersama (walau itu bukan arti torah yang bersangkutan).

Dapat disimpulkan halakhah bagi persekutuan meja belum dapat dirumuskan secara lengkap pada abad pertama dan karenanya masih terlihat dua pendapat yang berbeda. Pertama, hubungan dekat dengan bangsa non Yahudi perlu dibina bahkan dapat diterima. Ini juga didorong oleh teladan Abraham yang ramah kepada orang asing. Kedua, hubungan dekat dengan bangsa non Yahudi khususnya dalam persekutuan meja tidak dapat dipandang bijaksana, melainkan suatu kompromi terhadap persyaratan perjanjian. Terhadap kedua posisi itu dapat diduga, mayoritas akan dekat kepada yang lunak dan minoritas akan dekat kepada yang keras. Pertentangan kedua pandangan ini bersifat pertentangan internal Yudaisme, bukan ekstenal antara Kristen dan Yudaisme! Terhadap kontroversi internal ini Petrus ada ditengah menurut caranya sendiri.

Persekutuan meja merupakan bagian penting dalam kehidupan orang Yahudi abad pertama. Keramahan ibrani seperti Abraham, memberi makanan sebagai penerimaan terhadap tamu berarti makan bersama menunjukkan dimensi budaya dan perjanjian. Sebelum memecah roti ( makan bersama) dilakukan brakhah (berkat) yang diikuti oleh ucapan Amen oleh hadirin. Jadi makan bersama itu suatu ibadah tersendiri.

Namun pada abad pertama, meja makan Yahudi juga merupakan tempat untuk menyatakan kemurnian (purity) cara hidup yahudi. Makanan kosher bukan saja dipandang dari hasil akhir tetapi harus dilihat proses penyembelihannya juga. Secara menyeluruh,makan bersama dipandang suatu membangun pagar untuk menjaga kemurnian umat perjanjian dengan menghindari ketidak murnian hidup bangsa-bangsa.

Dilema yang dihadapi Petrus

Sifat halakhah dalam Yudaisme abad pertama yang belum ditetapkan secara jelas menyulitkan Petrus ( saat itu belum ada pemikiran untuk membuat halakha mesianik tersendiri). Saat grup penekan minoritas tak ada, Petrus condong ke halakha grup mayoritas yang lebih lunak terhadap makan bersama bangsa-bangsa. Namun saat rombongan yang datang dari Yaakov (tidak harus berarti diutus oleh Yaakov di Yerusalem), ia condong kepada halakha grup minoritas yang lebih keras. Menurut pandangan grup minoritas kaum bersunat, orang yang makan bersama bangsa-bangsa adalah orang yang hidup seperti goyim.

Data dari Talmud menunjukkan bahwa pada abad pertama  ada otoritas yang memperbolehkan Yahudi makan bersama non Yahudi. Tetapi mengapa di kelompok Yerusalem memasalahkan hal ini ? apalagi bangsa-bangsa itu sudah percaya kepada Mesias Yeshua. Kajian terhadapa situasi Yudaisme abad pertama menunjuk kepada beberapa kemungkinan:

Pertama, kunjungan rombongan Yerusalem terkait dengan penerimaan non Yahudi ke oleh komunitas Yahudi. Keyakinan yang berlaku di lingkungan kaum bersunat adalah non Yahudi tidak dapat berperanserta dalam lingkungan Yahudi tanpa menjadi Yahudi secara penuh (proselyte). Kedua, saat itu dirasakan adanya gejala pengikisan identitas Yahudi sehingga penyetaraan non Yahudi dan Yahudi dipandang sebagai ancaman terhadap identitas diri orang Yahudi. Jadi ketakutan Petrus terhadap kaum bersunat lebih bersifat sosio-politis dari pada teologis.

Ketiga, Petrus ada dalam posisi serba salah karena ia dalam kesepakatan dengan Paulus di Yerusalem merupakan rasul kepada bangsa Yahudi bersama sokoguru lainnya. Karenanya ia cukup kagok/kikuk jika tidak dapat diterima atau bertentangan dengan kelompok bersunat (Yahudi). Akibatnya Petrus memisahkan diri (KSILT) dari saudara non Yahudi dalam Yeshua. Ia bertindak sebagai orang Farisi yang artinya terpisah (2:12). Namun pemisahan ini tidak dapat dibenarkan dari sisi injil Paulus,Farisi yang revolusioner. Dampaknya, orang Yahudi lain pun mengikuti kemunafikan Petrus (3:13). Mereka ini orang yahudi dari Antiokhia yang sebelumnya sudah bersekutu dengan bangsa-bangsa tanpa masalah. Di sini kita melihat ajaran Yeshua yang ditangkap oleh Shaul bersifat revolusioner bukan karena sama sekali baru tetapi karena menembus berbagai lapisan tradisi sehingga terkesan baru. Ajaran yeshua yang diteruskan Paulus menegaskan kembali bahwa adalah Torah yang merumuskan Israel dan bukan Israel yang merumuskan Torah.

Petrus disebut munafik karena bertentangan dengan kebenaran injil yaitu keselamatan mulai dengan pilihan Tuhan yang berdaulat melalui iman kepada Mesias. Yeshua mati bukan untuk membuat bangsa-bangsa menjadi Yahudi ataupun menghapus identitas Yahudi, tetapi untuk membawa semua bangsa untuk menerima berkat Abraham. Dan makan bersama adalah ungkapan inti dari kebenaran Yahudi dan non Yahudi menjadi satu dalam Mesias yang bangkit. Menyangkali penerimaan bangsa non Yahudi sama dengan menyangkali janji Abraham, oleh keturunanmu bangsa-bangsa di dunia akan diberkati. Gerakan mesianik modern akan jatuh dalam jebakan yang sama bila terperangkap pandangan bahwa mesianik hanya untuk Yahudi dan bukan untuk non Yahudi. Identitas utama kita ada pada Mesias bukan pada garis darah. Orang berdosa selamat karena anugerah, bukan garis darah.

Dalam 2:14 Paulus menulis, Jika engkau sebagai Yahudi, hidup seperti goyim, bukan seperti Yehudim, bagaimana engkau memaksa goyim hidup seperti Yehudim? Hidup seperti goyim merupakan istilah yang dipakai di lingkungan orang Yahudi sejak zaman Makabe. Tidak menyunat anak, tak merayakan hari raya, memakai kalender lain dijuluki hidup seperti goyim. Di abad pertama orang Yahudi menambahkan makan bersama goyim sebagai pagar yang harus dijaga. Paulus memakai argumen/serangan kelompok bersunat yang diikuti Petrus dan membalikkannya. Hidup seperti Yahudi selain 2:14 muncul pada Ester 8:17 ketika orang Persia menjadi Yahudi (LXX disunat menjadi Yahudi). Paulus menegurnya karena dengan cara itu Petrus terkesan setuju bahwa anggota penuh perjanjian hanyalah orang Yahudi.

 

Penulis Oleh Pnt Benyamin Obadyah