Dikala Iesous Menyangkali YaHWeH Part1

 

Silakan mengikuti, Tuhan memberkati.

Redaksi.

POSMA SITUMORANG :

  1. MOSE DINILAI YESUS

2.1 BANDINGKAN: YESUS DENGAN MOSE (Istilah Ibrani bagi Musa)

Yohanes 1:17 : Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.

Musa hanya membawa Hukum Taurat, yakni sebagian dari seluruh kebenaran YMP (YANG Maha Pencipta). Yesus membawa seluruh kebenaranYang Maha Pencipta  (YMP), bahkan lengkap dengan kasih karuniaNya. SIAPA YANG LEBIH LUHUR? SIAPA GURU ANDA?

TANGGAPAN :

Dengan memberi keterangan seperti ini, jelas sekali  Musa dengan Yesus saling dipertentangkan, padahal judul bahasannya, BANDINGKAN. Nama asli mereka dalam bahasa Ibrani adalah Moshe dan Yeshua. Dari penulisan nama saja sudah ada diskriminasi, Musa ditulis Mose untuk mengesankan Yahudi; sedangkan Yesus tidak pernah sekalipun ditulis Yeshua walaupun itulah nama aslinya, bahkan di sampul depannya ditulis nama Yunaninya, Iesous. Yesus ditampilkan seakan-akan  bukan orang Yahudi dengan memakai sebutan nama Yunaninya. Ini saja sudah merupakan bias terhadap sejarah karena Yesus yang pernah hadir dalam sejarah di bumi ini adalah Yeshua dari Nazaret, orang Yahudi, bukan Yesus konseptual  dari Athena atau Roma. Dalam film The Passion of Christ€ yang berbahasa Aramaik yaitu lingua franca saat itu, namaNya ditampilkan dengan tepat, Yeshua.

Dalam kutipan Yohanes 1:17 dari alkitab LAI di atas, terdapat perkataan tetapi yang ditulis sama dengan kata-kata lainnya, seakan-akan memang demikian naskah aslinya. Ini dapat menyesatkan pembaca. Kalau kita lihat terjemahan lainnya seperti King James Version dan New International Version, perkataan tetapi itu dicetak miring but untuk menunjukkan bahwa kata tersebut tidak ada dalam naskah asalnya dalam bahasa Yunani, tetapi ditambahkan oleh penerjemah sendiri. Kalau memang perkataan tetapi itu  ada dalam naskah asalnya tentulah ada perkataan Yunani alla (Strong 235) seperti yang terlihat pada naskah Yunani Yohanes 3:16.  Dengan demikian, ayat ini tidak dimaksudkan oleh Yohanes untuk mempertentangkan Musa dengan Yesus.

Dalam naskah asalnya berbahasa Yunani, istilah hukum Taurat diterjemahkan dari perkataan nomos yang berarti prinsip atau hukum. Istilah nomos ini merupakan terjemahan Yunani dari istilah Ibrani Torah yang berarti pengajaran (bukan hukum). Pengajaran (Torah) yang diberikan YAHWEH kepada Musa memang menunjukkan dosa tetapi bukan hanya itu Torah juga menunjukkan kasih karunia dalam Mesias yang datang dari Bapa. Itulah sebabnya Yesus berkata bahwa Musa menulis tentang Dia (Yoh 5:46 ; Luk 24:27). Bagaimana? Musa menulis tentang Yesus ketika ia menulis tentang anak domba Paskah yang disembelih di Mesir tanggal 14 Nisan, tentang hari raya Roti tidak Beragi yang merupakan tanda profetik  Mesias yang tanpa dosa, tentang hari raya Buah Sulung yang merupakan nubuatan kebangkitan Yesus sebagai buah sulung dari kebangkitan orang percaya dari kematian. Musa menulis tentang Yesus dalam hari raya Pentakosta, hari raya Sangkakala, hari raya Pendamaian dan hari raya Pondok Daun;

seluruhnya ada tujuh hari raya yang ditetapkan Bapa untuk menyatakan Mesias yang benar.

Jadi kita melihat bahwa pengajaran tentang kasih karunia dan kebenaran untuk mendapatkan keampunan dosa telah digambarkan dalam Pengajaran (Taurat) yang diberikan kepada Musa. Namun pengajaran saja tidak dapat berbuat apa-apa, pengajaran itu menjadi kenyataan bila kasih karunia dan kebenaran itu diwujudkan secara nyata (bukan hanya diajarkan). Yohanes dengan jelas menulis pewujudan kasih karunia dan kebenaran itu terjadi oleh Yesus. Dengan perkataan lain, rencana keselamatan itu diberikan oleh Musa, pelaksanaan keselamatan itu datang oleh Yesus. Yesus memenuhi apa yang tertulis daloam Taurat (Mat 5:17). Tidak ada pertentangan antara Musa dan Yesus. Justeru, dengan menyandingkannya secara bersama, Yohanes ingin menunjukkan keduanya mempunyai peran masing-masing yang saling melengkapi. Bahkan sampai di akhir zaman sekalipun,  umat Tuhan yang berkemenangan menyanyikan dua nyanyian bukan satu, yaitu nyanyian Musa dan nyanyian Anak Domba (Wah 15:3).

Baik pengajaran Musa maupun Yesus berasal dari Bapa yang sama, jadi tidak bertentangan satu sama lain. Dengan demikian pertanyaan seperti SIAPA YANG LEBIH LUHUR? SIAPA GURU ANDA? menjadi tidak relevan. Cara berpikir kontradiktif semacam ini sesungguhnya membuat orang percaya menjadi pembangkang terselubung dengan membeda-bedakan Firman Tuhan yang utuh dan karena itu tidak dapat menerima berkat-berkat Tuhan secara penuh. Yesus adalah Firman Tuhan (Yoh 1:1,14). Karenanya menghormati Firman Tuhan yang dibawa oleh Musa berarti sama dengan menghormati Yesus sendiri.

POSMA SITUMORANG :

2.2 YESUS MENGECAM MOSE

Mat 19:8: Kata  Yesus kepada mereka: Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu mencerailkan isterimu; tetapi sejak semula tidaklah demikian

Yesus Mahapencipta mengamati dari sorga, ketika Musa kewalahan menghadapi kedegilan hati orang Yahudi, sehingga mengalah, mengizinkan terjadinya perceraian, asalkan perempuan yang diceraikan diberi surat cerai. Padahal (Yesus, Pencipta Musa & seluruh manusia mengetahui:) pada mulanya tidaklah demikian, melainkan: apa yang telah dipersatukan YMP tidak boleh diceraikan oleh manusia [Mat 19:6].

Jelaslah bahwa Yesus bukan hanya mengecam orang-orang Yahudi, Yesus juga mengecam Musa, yang telah mengalah terhadap kedegilan hati umat!

SIAPA YANG LEBIH LUHUR ?

TANGGAPAN:

Taurat diberikan kepada bangsa Israel sebagai konstitusi bangsa tersebut. Hal-hal yang dipandang penting oleh YHWH untuk menjaga ketertiban kehidupan masyarakat dan kekudusan bangsa seperti perkawinan dan perceraian  dicantumkan dalam konstitusi Taurat tersebut. Taurat hanya berbicara sedikit mengenai perceraian yaitu dalam Ulangan 24:1-4. Penekanannya pada ketertiban dalam hal seoerang isteri diceraikan oleh suaminya. Maksud Tuhan mencantumkan hal perceraian  dalam tauratNya adalah agar hal perceraian itu tidak mendatangkan dosa terhadap bangsa Israel.

Dari konteksnya terlihat bahwa orang Farisi yang membawa kasus perceraian kepada Yesus sesungguhnya hanya sebagai dalih untuk mencobai atau menyalahkan Yeshua dengan cara mempertentangkannya dengan Musa (Mat 19:3), padahal tidak ada pertentangan di antara keduanya. Untuk memahami permasalahannya, kita harus mengetahui bahwa masyarakat Yahudi abad pertama terdiri dari berbagai kelompok yang memiliki cara tafsir yang berbeda terhadap Taurat Musa. Kegagalan memahami hal ini akan mengakibatan pandangan-pandangan yang tanpa dasar dan menggelikan.

Pada abad pertama, golongan Farisi terpecah menjadi dua kelompok perguruan atau denominasi atau mazhab, yaitu Mazhab Shamai dan Mazhab Hilel. Mereka bukan saja mempunyai cara tafsir yang berbeda terhadap Taurat Musa.bahkan saling bertentangan satu sama lain. Kedua mazhab sungguh-sunguh ingin menjalankan Taurat tetapi dengan penafsiran yang berbeda mengenai alasan perceraian, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya (Ul 24:1). Mazhab Shamai tidak memperboleh perceraian kecuali didapati oleh sang suami bahwa isterinya tidak murni atau tidak suci lagi. Mazhab Hilel sebaliknya memperbolehkan seorang suami menceraikan isterinya hanya karena sang isteri membuat makanannya hangus alias gosong (Mishna: Gittin 9:10).

Dalam hal perceraian ternyata pandangan  Yesus terhadap perceraian SAMA dengan pandangan mazhab Shamai, yaitu dimungkinkan bila telah terjadi perzinahan ( Mat 5:32). Dimungkinkan berarti tidak dianjurkan sehingga para rabbi membuat prosedur perceraian menjadi sulit.

Dalam hal ini Yesus sama sekali tidak menyalahkan Musa, justeru Ia mengutip apa yang ditulis Musa dalam Kejadian 2:24 (Mat 19:6). Jadi kalau dikatakan Yesus juga mengecam Musa itu adalah tafsir pribadi yang tidak didukung oleh teks Alkitab. .  Ayat yang dikutip di atas dengan jelas menyatakan Yesus mengecam kekerasan hati manusia, bukan Musa.

POSMA SITUMORANG :

2.3 YESUS MENANTANG HUKUM YaHWeH

Pada peristiwa tertangkap-basahnya seorang perempuan yang berzinah [Yoh 8:1-11], ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menyatakan: Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan yang demikian. Apakah pendapatMu tentang hal itu ?

Catatan selanjutnya menyatakan bahwa Yesus berhasil membebaskan perempuan itu dari hukum rajam, karena para pemuka agama itu diinsyafkan dalam pertarungan kebenaran yang dilancarkan oleh Yesus! Batal merajam, mereka pergi meninggalkan perempuan itu, sendirian bersama Yesus.

Jelaslah, kesempatan itu menunjukkan bahwa kasih karunia yang Yesus tampilkan mengatasi kebenaran Hukum Taurat yang disampaikan oleh Musa, yang diterimanya dari YaHWeH, YaHWeH yang Musa yakini adalah Yang Maha Pencipta!

SIAPAKAH YESUS, BERANI MENANTANG, BAHKAN MENGANULIR HUKUM YaHWeH ?

TANGGAPAN :

Lagi-lagi terlihat Penulis tidak memahami Taurat, tanpa mau menyelidiki lebih dulu langsung menyalahkannya bahkan menghakimi dengan cara pandang yang sepihak yang jauh dari objektifitas dan sikap ilmiah. Memang menurut Taurat Musa  dosa perzinahan dapat dihukum rajam sampai mati (Im 20:10; Ul 22:22-24). Tetapi caranya  tidak begitu ada tuduhan langsung dirajam. Pasti bukan seperti di negeri ini yang ketika orang berteriak maling, langsung digebuki sampai mati. Taurat mengajarkan bahwa suatu tuduhan harus dibawa kepada otoritas yang berwenang dan otoritas tersebut baru memutuskan hukumannya bila tuduhan tersebut disertai oleh kesaksian dua atau tiga orang

saksi. Tuduhan yang didukung hanya oleh satu orang saksi tidak dapat diterima (Ul 19:15).

Jadi, ketika Yesus berkata, Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa (Yoh 8:7), sesungguhnya Ia sedang mencari saksi bagi perkara tuduhan perzinahan tersebut. Ternyata apa yang kita lihat? Tidak seorangpun berani tampil sebagai saksi seperti yang disyaratkan oleh Taurat sehingga gugatan tersebut batal demi hukum. Memang orang Farisi dan ahli Taurat hanya ingin mencobai Yesus (Yoh 8:3).

Perhatikan, oleh karena ketentuan Taurat mengenai ketersediaan saksi inilah, Daud yang sudah berbuat zinah dengan Batsyeba tidak dihukum rajam sampai mati. Bapa YHWH mengampuni Daud karena pertobatannya (I Sam 12:13). Sikap Bapa terhadap Daud ternyata sangat mirip dengan sikap Yesus terhadap perempuan yang berzinah itu. Yesus berkata kepadanya,Akupun tidak akan menghukum engkau. Pergilah jangan berbuat dosa lagi (Yoh 8:11). Sikap Yeshua sebagai Anak mengikuti sikap BapaNya yang di surga.

Tanggapan Yesus yang seperti itu menunjukkan empat hal: Yesus tidak menantang atau melawan Taurat YaHWeH, Ia menunjukkan belas kasihan kepada wanita itu, Ia melawan dosa wanita itu sesuai Taurat (Kel 20:14), dan Ia membuat para pencemooh mendapat malu.

POSMA SITUMORANG :

2.4 SABAT YaHWeH-PUN DILANGGAR OLEH YESUS

Dalam rekaman Perjanjian Baru, berulangkali Yesus menantang pemimpin-pemimpin Yahudi mengenai Sabat Agama Yahudi, yang diturunkan oleh YaHWeH sendiri kepada Musa [hukum ke-4, Kel 20:8]. Demikian segampangnya tindakan Yesus melanggar Sabat Yahudi, sehingga dalam Yoh 5:18 (Bacalah!) orang Yahudi sudah menganggap Yesus meniadakan Sabat, sehingga mereka berusaha membunuh Yesus!

SIAPAKAH YESUS (?), begitu berani menghapuskan Sabat yang diwajibkan oleh YaHWeH? Tidak mungkin YaHWeH lebih luhur dari Yesus, nyata dari sikap-sikap Yesus itu!

TANGGAPAN :

Sekali lagi ini menunjukkan suatu sikap a priori, terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa mau memahami duduknya masalah dengan cermat.  Kita harus dapat membedakan dua hal, ada Taurat dan ada tafsir terhadap Taurat. Taurat mengajarakan bahwa hari Shabbat adalah hari perhentian yang dibedakan dari enam hari kerja biasa. Dalam hari Shabbat orang dilarang untuk bekerja rutin seperti biasa sehingga ia bekerja tujuh hari dalam seminggu persis seperti budak saat orang Israel diperbudak di Mesir. Jadi yang dilarang Taurat adalah kerja rutin seperti hari lainnya untuk mencari nafkah. Dalam Yeremia 17:21 memang terdapat larangan untuk membawa beban melewati pintu gerbang. Tetapi konteksnya di sini adalah barang-barang yang menghasilkan keuntungan, jadi berkonotasi untuk mencari nafkah. Semangat penerapan Taurat secara ketat pada saat itu telah membuat orang-orang Yudea memandang bahwa mengangkat tilam sekalipun tidak diperbolehkan, padahal orang tersebut baru sembuh dari sakit dan itu bukan pekerjaan rutinnya. Padahal Taurat Musa TIDAK PERNAH MELARANG orang mengangkat tilam seperti yang dialami oleh orang ini. Apa yang dapat kita simpulkan dari fakta-fakta ini? Dengan cara penafsiran farisaik yang ketat, orang Yudea memandang Yesus sudah melanggar Shabbat, itu adalah pandangan mereka, tafsir mereka. Yesus tidak pernah melanggar Taurat. Dimana ayatnya jika oleh Bapak Posma Yesus sudah dianggap melanggar Taurat dalam kasus mengangkat tilam?

Adalah suatu kesalahan besar dalam penafsiran Alkitab bila kita  menganggap bahwa pandangan orang Farisi dan Ahli Taurat selalu identik dengan Taurat. Hal ini disebabkan mereka mempunyai peraturan-peraturan sebagai petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) untuk menjalankan Taurat tertulis (Taurat Musa). Peraturan pel;aksanaan itu  disebut halakhah yang diajarkan secara lisan sehingga disebut juga Hukum Lisan. Hukum Lisan ini disusun oleh para rabbi untuk  memagari agar orang Yahudi tidak melanggar Taurat. Jelashalakhah sebagai bentuk tafsir tidak tertulis dalam Taurat Musa. Pada tingkat halakhah inilah Yesus dan orang Farisi banyak berbeda pendapat. Meskipun demikian, mereka berbeda dalam rangka mentaati Taurat dan bukan untuk melawan Taurat. Banyak orang Kristen tidak mengetahui hal ini dan karena itu salah memahami perdebatan antara Yesus dengan golongan Farisi dan ahli Taurat seperti yang ditunjukkan oleh kesimpulan Bapak Posma.

POSMA SITUMORANG :

  1. MOSE BERTATAP MUKA DENGAN YaHWeH

Kel 4:4-5 : Tetapi firman YaHWeH kepada Mose: Ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya Mose mengulurkan tangannya, ditangkapnya ular itu, lalu menjadi tongkat ditangannya €“ supaya mereka percaya, bahwa YaHWeH, Elohim nenek moyang mereka, Elohim Abraham, Elohim Ishak, Elohim Yakub, telah menampakkan diri kepadamu.

Kel 6:1 : Selanjutnya berfirmanlah Elohim kepada Mose: Akulah YaHWeH. Aku telah menampakkan diri kepada Abraham.

Kel 31:18 : Dan YaHWeH memberikan kepada Mose, setelah Ia selesai berbicara dengan dia di gunung Sinai, kedua loh hukum Elohim, loh batu, yang ditulisi oleh jari Elohim.

CONTOH-CONTOH DIATAS, beserta berpuluh-puluh pernyataan lain yang serupa, menunjukan betapa Mose (Musa), penulis kitab-kitab Musa (Kitab Kejadian, Keluaran, dsb.) yakin benar ia berhadapan muka dengan Yang Maha Pencipta (YMP), yang dikenalnya dengan nama YaHWeH, dicatatnya dalam empat huruf (tetragramma): YHWH [Kel 3:14], diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi: Aku ada Yang Aku ada.

Apapun dasar/alasannya, keyakinan Mose ini diaminkan oleh pemuka-pemuka Kristen selama ribuan tahun (!), sehingga mereka mengajarkan kepada umat Kristiani ajaran keliru: Sesembahan Yang Benar bernama YaHWeH, atau dalam bobot pernyataan sama kelirunya: Yang Maha Pencipta memperkenalkan DiriNya melalui Perjanjian Lama dengan nama diri YaHWeH.

TANGGAPAN :

Sejak awal tulisannya  Penulis sudah memakai istilah Yang Maha Pencipta (YMP) yang bagi saya sudah mengundang tanda Tanya karena kurang lazimnya istilah ini di lingkungan kristen pada umumnya. Dalam bagian ini, tanda tanya tersebut menjadi jelas.  Dengan pemakaian istilah ini, ia sebenarnya ingin meletakkan YHWH dibawah YMP sebagai usaha untuk menyatakan bahwa YHWH bukan Pencipta segala sesuatu. Tidak salah lagi ide inilah yang diyakininya sebagai pengungkapan mistery yang dipaparkan pada Pendahuluan bukunya. Orang boleh saja merasa mendapat pengungkapan mistery berupa pewahyuan dari Roh Yesus, tetapi saya sebagai orang percaya juga boleh sekali menguji dalam terang Firman Tuhan apakah pewahyuan itu berasal dari Roh Yeshua dari Nazaret, Israel atau dari Roh Yesus dari Athena, Yunani atau Roh Yesus dari Roma, Italia.

Ketika dicobai oleh Iblis, Yeshua (Ibrani, nama asli Yesus dariNazaret) menghadapinya dengan Firman Tertulis yang diambil dari Torah. Mari kita uji pewahyuan tersebut dengan Firman Tertulis yang diambil dari Torah, yaitu Nyanyian Musa dalam Ulangan 32:6 seperti berikut:

Demikianlah engkau mengadakan pembalasan terhadap YHWH, hai bangsa yang bebal dan tidak bijaksana? Bukankah Ia Bapamu yang mencipta engkau?.

Jelas sekali Firman Tuhan mengatakan bahwa YAHWEH adalah BAPA yang MENCIPTA bangsa Israel dan bangsa-bangsa termasuk Indonesia. Perkataan mencipta dalam ayat ini diterjemahkan dari perkataan asah dalam bahasa Ibrani (Strong Concordance 6213). Perkataan asah ini juga dipakai ketika Elohim menciptakan cakrawala (Kej 1:7), benda penerang besar matahari dan bulan (Kej 1:16), binatang-binatang (Kej 1:25) dan pekerjaaanNya selama 6 hari (Kej 2:2). Dalam terang Firman Tuhan, kita tahu bahwa oleh wahyu Roh Tuhan Musa mengucapkan suatu kebenaran yng unik yaitu bahwa  YAHWEH sebagai BAPA  bagi Israel. Musa telah membuka jalan bagi Yesus dari Nazaret untuk mengajar orang Yahudi berdoa, Bapa kami di Surga  (Mat 6:9).

Perhatikan,jangan lagi mengatakan, itu buatan Musa sendiri. Firman Tuhan menyatakan Nyanyian Musa ini masih tetap dipakai pada kitab Wahyu yang diwahyukan kepada murid terkasih Yeshua dari Nazaret yang bernama Yohanes (Wahyu 15:3).

Jadi jelaslah bahwa YAHWEH itu PENCIPTA langit dan bumi beserta segala isinya dan DIAlah yang dipanggil BAPA oleh Yeshua HaMashiakh, Yesus Kristus.

Sesungguhnya apa yang disebut mistery yang diwahyukan Roh Yesus itu bukan sesuatu yang baru, bahkan suatu yang sudah berkarat dimakan waktu. Dalam abad 2 M ada seorang uskup yang bernama Marcion (84-160 M). Pengajarannya sangat dipengaruhi oleh paham Gnostik. Kaum gnostik mengajarkan bahwa manusia diperbudak karena jatuh dari keadaan roh murni ke dalam suatu eksistensi jasmani. Mengikuti alur pikir ini, Marcion menganggap bahwa Tuhan dalam Perjanjian Lama (YAHWEH) yang menghembuskan nafas ke dalam tubuh, adalah Tuhan yang yang bertanggung jawab terhadap perbudakan itu. Tuhan ini dalam Perjanjian Lama ini bukanlah Tuhan dalam Perjanjian Baru. Tuhan yang yang disebut Bapa oleh Yesus adalah Tuhan yang lebih tinggi mulia karena bersifat roh adanya. Dengan model keyakinan seperti ini tidak heran kalau Marcion menolak Tuhan Perjanjian Lama yaitu YAHWEH. Marcionisme tidak mengakui Torah, bahkan seluruh Perjanjian Lama. Karena dalam Perjanjian Lama berisikan kehidupan bangsa Yahudi, maka pengajarannya juga bernuansa anti Yahudi. Semua ini dapat dilihat pada paradigma yang dipakai oleh Bapak Posma.

Musa yang dianggapnya sokoguru Torah dan Perjanjian Lama, dijadikan bulan-bulanan untuk dijatuhkan dengan teknik duniawi yang disebutcharacter assassination, pembunuhan karakter. Padahal  rasul Yohanes, murid yang dikasihi Yeshua dengan hormat menyebut Musa hamba Tuhan dalam Wahyu, kitab terakhir Perjanjian Baru (lihat Wahyu 15:3). Yohanes jelas mendapat wahyu dari Yesus Kristus yaitu Yeshua HaMashiakh (Wah 1:1), tetapi mengapa penekanannya sangat berbeda dengan pengajaran  la Marcion yang dikatakan sebagai €mistery Yang Maha Pencipta€ oleh pewahyuan  Roh Yesus? Yesus yang mana? Saya hanya  kuatir  jangan-jangan itu Yesus dari Yunani. Dalam KASIH Mesias saya berharap saudaraku, Bapak  Posma dapat kembali menundukkan diri kepada otoritas Firman Tuhan secara utuh.   (bersambung part 2)