Dikala Iesous Menyangkali YaHWeH Part3

TANGGAPAN :

Lagi-lagi ketidak-mampuan memahami konteks dalam sejarah yang lebih luas. Tentang istilah mengenal telah dibahas panjang lebar pada dua anak bab sebelum ini. Orang Yahudi dikatakan tidak mengenal Bapa Sorgawi karena tidak mengenal rencanaNya dan bukan karena Bapa Sorgawi itu adalah Tuhan baru yang baru diperkenalkan pertama kali oleh Yesus Kristus. Kalau Bapa itu Tuhan baru yang lain dari Tuhan yang memberikan Taurat, apalagi tuhan yang berbau Yunani, murid-muridpun tidak akan mau mengikut Yesus. Filipus mau mengikut Yesus karena Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan para nabi (Yoh 1:45). Yesus sendiri berkata, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya(Mat 5:17).

Kalau benar bahwa Taurat Musa itu salah, tentunya Yesus sebagai otoritas yang lebih tinggi bahkan YMP menurut pemahaman ala Marcion, tentunya Yesus tidak akan mengatakan ayat Mat 5:17 di atas, bukan? Kalau benar Taurat Musa itu berasal dari malaikat YHWH yang lebih rendah dari YMP menurut pemahaman a la Marcion, mengapa Yesus yang mempunyai otoritas lebih tinggi dan YMP justeru sampai mati di kayu salib menggenapi Taurat yang notabene berasal dari malaikat yang diciptakanNya sendiri? Logika serasa terbalik. Sebutan Anak Domba Paskah oleh rasul Paulus (I Kor 5:7) dan Anak Domba oleh rasul Yohanes (Wahyu 5:12) sangat jelas menunjukkan bahwa Yesus menggenapi Taurat, bukan meniadakannya.

Hati-hati tidak ada ayat dalam alkitab yang memuat istilah YMP, sama sekali tidak dapat menjadi patokan walau dberi tanda petik yang menyatakan seakan-akan kutipan langsung.

POSMA SITUMORANG :

Bagaimana Pembaca yang terkasih ?

Tokoh mana menjadi landasan iman anda; Musa atau Yesus ?

TANGGAPAN : Yesus sendiri berkata: Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku (Yohanes 5:46).

Mau apa lagi?

POSMA SITUMORANG :

  1. MEMBANDINGKAN TOKOH: YESUS DENGAN YaHWeH

Akibat tidak menaklukkan pikiran mereka kepada Kristus, banyak pemimpin Kristiani menganut ajaran Musa: Musa berhadapan-muka dengan Yang Maha Pencipta dan Musa menerima dua loh batu dari Yang Maha Pencipta. Kelanjutannya, ahli-ahli pikir Kristen ini cenderung menganggap Yesus adalah Anak YaHWeH, atau Yesus diutus oleh YaHWeH atau Yesus pernah tampil dalam zaman Perjanjian Lama sebagai YaHWeH. Semua dinyatakan keliru, oleh Yesus sendiri.

TANGGAPAN :

Inilah masalahnya kalau sudah merasa cukup menyelidiki alkitab dengan pendekatan parsial, satu ayat tidak dicek dengan ayat lainnya secara lengkap. Tentang berhadapan muka telah dibahas dalam tanggapan 4.3; tentang penyerahan dua log batu taurat di bahas dalam tanggapan 4.1; tentang Anak Yahweh pada tanggapan 5.1.1 dan Diutus Yahweh pada tanggapan 5.1.3.

Sebagai Firman Tuhan jelas Yesus ada dalam Perjanjian Lama, tentu bukan sebagai YHWH tetapi sebagai FIRMAN YHWH karena Ia adalah FIRMAN dari kekal sampai kekal (Yoh 1:1). YHWH dan FIRMAN YHWH adalah suatu kesatuan (ekhad), bisa dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan.

POSMA SITUMORANG :

6.1 CUKUP DENGAN ANALISA ILMU BAHASA ?

Ada ahli pikir melakukan analisa dari Ilmu Bahasa (Etimologi). Analisa yang membanding-bandingkan nama Yesus dengan nama YaHWeH. Mengandalkan ke-pakar-an mereka dalam Bahasa Aramaic ataupun Ibrani kuno, lalu menganggap keduanya (bersama nama-nama Yesaya, Yoshua, bahkan Yehoshua) mempunyai akar kata yang sama. Karena istilah YaHWeH berusia lebih tua dari pada Yesus, maka tokoh YaHWeH dianggap merupakan akar dari Tokoh Yesus, sehingga tokoh YaHWeH dianggap lebih luhur dari pada Tokoh Yesus ! Cara pembandingan yang dangkal, namun sudah menjerat cukup banyak orang kristen, yang belum menjadi murid Yesus !

TANGGAPAN :

Orang yang tidak dapat menghargai arti nama dan analisa bahasa dalam studi kitab suci justeru yang dangkal, karena ia tidak dapat melihat keindahan dan kedalaman rangcangan Tuhan dalam FirmanNya. Dalam kitab suci Ibrani, nama menyatakan pribadi. Dari nama dan gelar Tuhan kita dapat mengenal sifat-sifat Tuhan. Tentu saja orang yang berpikir Yunani (Hellenis) tidak  dapat memahaminya  karena mereka tidak punya apa-apa, mereka hanya punya banyak berhala. Tuhan yang hidup hanyalah yanag disembah bangsa Ibrani/Israel.

POSMA SITUMORANG :

6.2 CUKUP DENGAN ANALISA/SPEKULASI ILMU SEJARAH ?

Ahli pikir lainnya menganalisa peristiwa-peristiwa Alkitabiah bermodalkan disiplin Ilmu Sejarah. Kerumitannya tidak perlu disajikan disini, tetapi mereka tiba pada kesimpulan : Yesus pernah tampil pada zaman Perjanjian Lama, sebagai utusan YMP, jadi utusan YahWeH, kata mereka.

Lahirlah paham yang bernama Theologia Christophany. Ajaran ini lahir dari pendekatan Ilmu Sejarah, sementara kita mengetahui bahwa Sejarah dibangun dari pelbagai analisa, seringkali ditopang oleh ragam-ragam spekulasi. Spekulasi tidak selalu benar. Maka Theologia Christophany tidak punya landasan yang kuat (tidak sah)!

TANGGAPAN :

Sikap memandang rendah (Ilmu) Sejarah tidak menunjukkan sikap ilmiah. Hal ini terlihat mewarnai kesimpulan-kesimpulan yang diambil dalam seluruh buku di kala Iesous menyangkali YHWH. Kesimpulan-kesimpulan tersebut terlihat seakan-akan membukakan suatu kebenaran akan tetapi bila disandingkan dengan fakta-fakta sejarah seputar kitab suci barulah terasa kesimpulan-kesimpulan itu justeru menghalangi kita dari kebenarannya. Tentu saja Sejarah yang dimaksud di sini adalah pencatatan fakta historis yang dilakukan oleh nabi-nabi yang diurapi Roh Kudus atau setidaknya karya orang-orang sekaliber Josephus atau Arnold Toynbee, dan bukan sejarah kaliber Serangan Umum 11 Maret yang pernah menjadi tontonan umum penduduk negeri ini.

Tentang keberadaan Yesus dalam Perjanjian Lama, marilah kita lihat Firman Tuhan: Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Tuhan dan Firman itu adalah Tuhan. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Tuhan. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan(Yoh 1:1-3). Jadi di zaman Perjanjian Lama Yeshua (Yesus) ada sebagai Firman yang selalu  bersama Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. Dialah yang menyertai Sadrakh, Mesakh dan Abednego di dalam tungku perapian yang terlihat oleh Nebukadnezar rupanya seperti anak dewa (Dan 3:25). Firman yang sama itulah yang menjadi manusia (Yoh 1:14) pada zaman Perjanjian Baru dan dinamai Yeshua (Ibr keselamatan) karena dialah yang akan menyelamatkan umatNya (Mat 1:21).

Penanggap mensinyalir ketidak-sukaan Penulis pada sejarah disebabkan karena memang tokoh Iesous sebagai tokoh konseptual Yunani tidak mempunyai fakta sejarah, tokoh yang diciptakan untuk memenuhi konsepsi kaum Hellenis. Sebaliknya, sejarah yang benar dan akurat justeru dapat membuka kepalsuan Iesous dari Yunani dan menyatakan bahwa Yesus dari Nazaret yaitu Yeshua itulah tokoh yang sebenarny.

POSMA SITUMORANG :

Theologia Christophany disanggah oleh Yesus sendiri dalam sabdaNya [Yoh 8:19] “Baik Aku, maupun BapaKu tidak kamu kenal Berarti Yesus belum pernah muncul dalam zaman Perjanjian Lama, dengan nama atau bentuk apapun ! Tokoh Yesus tidak dikenal sebelumnya oleh orang Yahudi.

TANGGAPAN :

Seperti yang sudah dijelaskan dalam tanggapan 5.3 bangsa Yahudi abad pertama secara umum gagal mengenali Yesus sebagai Mesias karena mereka mengharapkan kedatangan seorang Raja dengan kekuasaan politik sedangkan Yesus datang sebagai Hamba yang merendahkan diri. Tetapi ini tidak berarti bangsa Yahudi tidak tahu apapun tentang jabatan Mesias yang disandang Yesus, mereka bahkan merindukannya. Hanya sayang mereka mengharapkan aspek pembebasan dari penguasaan politik yang baru akan dijalankan oleh Yesus pada kedatanganNya yang kedua.

Banyak orang Yahudi yang mengenali Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan, bagi mereka tokoh Yesus bukanlah tokoh yang muncul dari kegelapan malam. Sebagai contoh, Simeon dan Hana yang tinggal di Yerusalem. Roh Kudus menyatakan bahwa mereka tidak akan mati sebelum melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.

Mari kita lihat catatan fakta sejarah yang ditulis oleh dokter Lukas yang menulis dibawah urapan Roh Kudus:

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.

Ia datang ke Bait Tuhan oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Tuhan, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan

yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." (Lukas 2:25-32)

Catatan sejarah mengenai nabiah Hana oleh dokter Lukas :

Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Tuhan dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Tuhan dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem (Lukas 2:36-38).

Dengan kedua contoh di atas, terlihat adanya benang merah kesinambaungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, teologi yang membuat Perjanjian Lama dan Baru terputus dengan sendirinya telah gagal.

POSMA SITUMORANG :

Dari sudut pandang Yesus, setiap orang yang berkecimpung dalam Ilmu Sejarah dapat dianggap berasal dari Ilmu Sejarah, jadi tidak berasal dari kebenaran, sebab Ilmu sejarah dipenuhi anggapan manusia disertai spekulasi ilmiah. Ilmu Sejarah tidak takluk kepada pikiran Kristus!

TANGGAPAN :

Pandangan Penulis tentang Ilmu Sejarah di atas menunjukkan penilaian yang sangat rendah terhadap sejarah, suatu disiplin yang setua peradaban manusia. Sejarah adalah rekaman fakta dan peristiwa di masa lampau. Ilmu sejarah adalah metode untuk membedakan mana yang benar dan mana yang palsu. Seorang yang berkecimpung dalam pengajaran alkitab memerlukan pengetahuan sejarah. Alkitab kita tidak tiba-tiba datang kepada kita dalam bentuk alkitab cetakan LAI. Fakta sejarah menyatakan bahwa alkitab LAI yang dianggap asli oleh orang Kristen Indonesia sebenarnya hanyalah suatu terjemahan belaka, bukan asli nya. Kitab suci asli berbahasa Ibrani, Aramaik dan Gerika (Yunani) sesuai dengan bagian-bagian masing-masing kitab atau surat. Penilaian yang rendah terhadap sejarah tentu saja akan mempengaruhi kualitas kesimpulan yang dihasilkan oleh Penulis.

POSMA SITUMORANG :

Jika Theologia Christophany (bahwa Yesus pernah tampil pada zaman Perjanjian Lama) adalah benar, tentu urusan bersaksi tentang kebenaran sudah dituntaskan oleh Yesus pada zaman Perjanjian Lama, mengingat Tokoh Yesus tidak pernah tanggung-tanggung didalam bertindak ! Tidak perlu lagi Yesus lahir ke bumi. Tentu isi Perjanjian Lama tidak perlu disempurnakan lagi.

TANGGAPAN :

 

Paradigma teologi yang dipakai Penulis telah membuatnya berpikiran sempit terhadap Perjanjian Lama dan dengan demikian memposisikan dirinya di luar apa yang ditulis dalam Perjanjian Baru. Dalam Galatia 3:8 rasul Paulus menulis, Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Tuhan membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: "Olehmu segala bangsa akan diberkati." Ada 2 hal yang menarik di sini: Pertama, ternyata Injil telah lebih dulu dikabarkan kepada Abraham sebelum kepada bangsa-bangsa (baca : kita). Ini tentu mencengangkan orang Kristen pada umumnya yang menyangka Injil itu diberikan sebagai pengganti Taurat. Dan janji-berkat ini sudah digenapi, Injil diberitakan kepada bangsa-bangsa melalui bangsa Israel yang adalah keturunan Abraham. Yeshua dari Nazaret menegaskan, Keselamatan datang melalui orang Yahudi”(Yoh 4:22). Kedua, janji-berkat dari YaHWeH kepada Abraham ternyata dikaitkan dengan Injil sehingga ini berarti janji-berkat kepada Abraham mencakup baik aspek jasmani (sosial-ekonomi-fisik) maupun aspek rohani (keselamatan roh).

Jelas Yesus tampil dalam Perjanjian Lama sebagai Firman YHWH dan olehNya YHWH menciptakan segala sesuatu seperti kesaksian Yohanes dan Yesaya (Yoh 1:1-3, Yes 64:8). Sesuai dengan kedaulatanNya Ia bebas menentukan pilihan dan rencanaNya sendiri untuk lahir ke bumi. Siapa yang berhak mengatakan tidak perlu kalau Bapa YHWH memandang perlu (Yoh 3:16) dan Yesus pun memandang perlu? Jangan melakukan kesalahan yang sama seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang sejak tadi dikecam sebagai tidak kenal€™ kepada Yesus dan Bapa. Cara berpikir yang menganggap Yesus tidak perlu lahir ke bumi itulah, justeru dapat ditafsirkan sebagai tidak kenal Yesus, berhati-hatilah!

Dalam Perjanjian Lama Bapa melalui FirmanNya yaitu Yesus sendiri menyiapkan Rencana keselamatan Israel dan bangsa-bangsa di dunia dalam bentuk nubuat, hari raya dan tanda-tanda profetik lain. Dalam Perjanjian Baru, Bapa mengimplementasikan Rencana menjadi Pelaksanaan dengan mengirimkan FirmanNya menjadi manusia (Yoh 1:14) dan namaNya disebut Yeshua (Mat 1:21). Jelas, Yesus perlu lahir ke bumi walaupun Ia berperan aktif dalam Perjanjian Lama.

POSMA SITUMORANG :

Sebaliknya, kitab Ibrani 8:7 menyatakan dengan jelas: Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua.

Penulis surat Ibrani mengetahui benar bahwa Perjanjian Lama mengandung cacat, maka ditegaskannya lagi dalam Ibr 8:13, mengutip sabda Yesus : Oleh sebab Ia {Yesus; Penulis} berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya.

TANGGAPAN:

Dalam Ibrani 8:7 perkataan tidak bercacat yang tertera di sini merupakan terjemahan dari kata Yunani amemptos. Menurut Gerhard Kittel (Theological Dictionary of the New Testament, Vol 4, hal 572), perkataan amemptos di sini tidak berarti salah secara  obyektif tetapi salah akibat penilaian subyektif. Pengertian ini sungguh pas dengan kutipan Yeremia 31:31-34 pada Ibrani 8: 8-12 untuk 2 alasan berikut: Pertama, ayat 9 dengan jelas menyatakan bahwa mereka (bangsa Israel) tidak setia kepada perjanjianKu, jadi pelakunya (subyeknya) yang cacat bukan perjanjian Tuhan sebagai obyeknya yang cacat. Kedua, perjanjian yang berisi hukum Tuhan akan ditaruh dalam akal budi mereka dan ditulis dalam hati mereka (ayat 10). Jelas sekali hukum tetap sama mediumnya yang berbeda, dulu di atas batu (di luar manusia), yang baru pada akal budi dan hati (di dalam manusia). Perbedaan medium ini memberi dampak yang dahsyat karena dengan Taurat (Gr nomos) di dalam akal budi dan hati, umat Tuhan tidak perlu lagi di-dikte dari luar tetapi dengan sendirinya, dari dalam hatinya timbul kerinduan untuk mentaati perintah-perintah Tuhan.

Ketelitian membaca sangat diperlukan dalam penyelidikan kitab suci yang akurat dan berbobot. Kelihatannya hal ini yang kurang mendapat perhatian dari penulis dan ini terlihat dari kesimpulan yang dihasilkannya terhadap Ibrani 8:13. Perkataan perjanjian dalam ayat tersebut sesungguhnya TIDAK TERDAPAT dalam naskah Yunaninya. Dalam Green Interlinear Bible tertulis berkata-kata tentang yang baru tanpa perjanjian. Dalam alkitab KJV, perkataan perjanjian dicetak miring covenant untuk mengisyaratkan bahwa kata tersebut tidak terdapat dalam naskah aslinya! Sayangnya penulis hanya memakai naskah alkitab terjemahan LAI yang ternyata sembrono mengerjakannya.

Terjemahan dari Green Interlinear Bible untuk Ibrani 8:13 :

Oleh karena Ia berkata-kata tentang yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai  yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya.

Pertanyaan, apa yang baru dan apa yang lama? Untuk sekian kalinya, lihat konteksnya! Konteks Ibrani pasal 8 adalah KEIMAMAN (Priesthood),bukan Perjanjian! Alhasil, semua butir kesimpulan Penulis gugur demi kebenaran.

POSMA SITUMORANG :

Theologia Christophany : PELECEHAN TERHADAP TUHAN YESUS.Yesus sekedar dianggap (setara dengan) malaikat YaHWeH

BERTOBATLAH !

TANGGAPAN :

Penanggap tidak punya masalah dengan posisi yang diistilahkan oleh Penulis sebagai Teologia Christophany, Yeshua pasti sudah tampil di Perjanjian Lama sebagai FIRMAN YAHWEH, namun Penanggap setuju juga kalau dikatakan Iesous atau Yesus  dari Yunani tidak pernah tampil di Perjanjian Lama karena ia ada di luar Israel, di kuil-kuil di Athena, Yunani.

Perlu disampaikan di sini bahwa posisi teologis penulis sesungguhnya merupakan PELECEHAN TERHADAP YAHWEH, BAPA SURGAWI YANG NAMANYA PERLU DIKUDUSKAN SESUAI AJARAN YESHUA dari Nazaret karena YaHWeH dianggap (setara dengan) malaikat yang diciptakanNya

BERTOBATLAH, PELAJARI FIRMAN DARI AKARNYA!

POSMA SITUMORANG :

6.1 PERBANDINGAN JANJI BERKAT

6.4.1 JANJI BERKAT DARI TOKOH YANG DIANGGAP YMP PADA P.LAMA dirumuskan dalam Kej 12:1-3, janji kepada Abraham, yang mewakili umat YaHWeH: Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."

6.4.2 JANJI BERKAT DARI TOKOH YESUS (YMP PADA P.BARU) bagi semua pengikutNya, dinyatakanNya dalam Yoh 10:10 Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup (rohani, yakni hidup-kekal; Penulis) dan mempunyainya dalam segala kelimpahan ; serta dalam Yoh 14:27: Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu

Dapatkah Pembaca menampak bahwa janji-berkat dari YaHWeH sekedar mencakup kehidupan di dunia ini? Sederhananya, janji berkat YaHWeH adalah kejayaan Sosial-Ekonomi-Fisik. Dan memang terbukti sampai masa kini, orang-orang Yahudi menikmati janji-berkat itu.

Namun, YaHWeH tidak menjanjikan hidup kekal seperti yang dijanjikan oleh Yesus!

Yesus menjanjikan kejayaan spirituil (yakni: keselamatan) yang tidak dijanjikan oleh YaHWeH, disertai kelimpahan Sosial-Ekonomi-Fisik. Tokoh Mana Yang Unggul?

TANGGAPAN :

Bahwa janji-berkat YaHWeH kepada Abraham dan keturunannya bukan hanya berkat jasmani tetapi juga meliputi kehidupan rohani atau hidup kekal justeru dinyatakan oleh Perjanjian Baru dalam Ibrani 11:8-10: Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Tuhan.

Penulis sebagai insane abad 21 memang tidak memahami makna berkat YaHWeH secara lengkap, tetapi Abraham dengan imannya melihat berkat YaHWeH bukan hanya terbatas pada segi jasmani tetapi juga mencakup olam haba,kehidupan yang akan datang, sehingga ia merasa seolah-olah tinggal di tanah asing karena merindukan yaitu suatu kota yang mempunyai dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Tuhan.

MULIALAH ENGKAU BAPA YAHWEH,JANJIMU SUNGGUH DAHSYAT!

MULIALAH YESHUA, FIRMAN YANG HIDUP!

Paulus mengatakan bahwa Abraham adalah bapak orang beriman atau orang beriman adalah anak-anak Abraham (Gal 3:7). Penulis cukup tepat ketika mengatakan bahwa Abraham mewakiili umat YaHWeH karena merekalah yang disebut orang beriman oleh Rasul Paulus yang diangkat oleh Yeshua HaMashiakh. Sungguh mengkhawatirkan bila orang merasa mengenal Yesus tetapi pada saat yang sama menolak Bapa YaHWeH, Yesus yang disembahnya sangat boleh jadi Yesus dari Yunani yang tidak paham tradisi iman Abraham yang Ibrani.

POSMA SITUMORANG :

6.6.2 YOHANES 6:63: Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. €

Yesus tidak sabdakan: firman Tuhan adalah roh dan hidup Tidak juga disabdakanNya: firman Tuhan pada kitab nabi-nabi (Perjanjian Lama) adalah roh dan hidup Melainkan: perkataan-perkataanKu adalah roh dan hidup Baru perkataan Yesus saja sudah menjanjikan hidup kekal.SIAPA YESUS?

TANGGAPAN :

Yesus adalah FIRMAN yang bersama-sama dengan Tuhan dan adalah Tuhan (Yoh 1:1). Tuhan Pencipta hanya satu, Ia ada di zaman PL dan zaman PB. Untuk menciptakan sesuatu Tuhan Pencipta berfirman baik di PL maupun PB dan Firman itu adalah Yesus. Di zaman PL Ia memakai nabi-nabi, di zaman PB Ia datang sendiri, berbicara sendiri. Sesudah Ia naik kesurga Ia memakai rasul-rasul dan hamba-hambaNya. Baik di zaman PL maupun PB Firman Tuhan adalah roh dan hidup, permainan kata berdasarkan pelogikaan diri sendiri tidak ada manfaatnya.

Ulangan 30:20 dengan mengasihi YHWH, Tuhanmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka."

POSMA SITUMORANG :

6.6.4 MATIUS 10:8 Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan

Urusan mengusir setan tidak dikenal dalam Perjanjian Lama. Tidak ditampilkan oleh YaHWeH. Kuasa sedemikian (apakah YaHWeH memiliki juga? ) tidak pernah didelegasikan oleh YaHWeH kepada para Nabi ataupun umat YaHWeH!

TANGGAPAN :

Apa yang diamati oleh Penulis ada benarnya walaupun hanya separuh benar. Memang pengusiran setan menjadi perintah setelah Yeshua, sang Mesias, yaitu Yang Diurapi datang ke dunia. Memang itulah misi yang harus dijalankanNya, seperti yang ditulis Yohanes:

Barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Bapa menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu (I Yohanes 3:8)

Tidak heran kalau Yeshua memberi penekanan pada pengusiran setan karena misi utamanya adalah menghancurkan kuasa dosa dengan cara membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis. Adalah Yeshua yang harus melakukan final deadly strike, pukulan akhir yang mematikan kepada si Setan; bukan Musa atau nabi-nabi lainnya. Tetapi ini tidak berarti Musa dan nabi-nabi lainnya tidak punya fungsi dalam peperangan rohani yang dahsyat ini, Musa dan nabi-nabi diberi tugas untuk mempersiapkan peperangan rohani yang akan dilakukan oleh Yeshua. Suatu rencana peperangan yang besar harus dipersiapkan dengan matang, semua aspek harus disiapkan termasuk aspek legal dari peperangan itu sendiri. Musa diutus untiuk mempersiapkan pengajaran dan aspek legal dari peperangan rohani melawan kuasa dosa dan setan.

Taurat berbicara tentang dua kerajaan, kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Kehidupan dan berkat ada dalam kerajaan YHWH, sedangkan kematian dan kutuk dioperasikannya berkaitan dengan kerajaan setan, kedua kerajaan itu berlawanan. Dalam Ulangan 30:19 YHWH berfirman: Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu.

Musa melakukan peperangan melawan pasukan Firaun dan bangsa Amalek yang dikuasai oleh roh-roh dunia dan penyembahan berhala. Musa melakukan peperangan itu secara rohani, ia mengalahkan mereka dengan kuasa Bapa YHWH, dengan tongkat Laut Merah terbelah, dengan tangan terangkat ke atas tentara Amalek lari tunggang langgang. Musa mengajar bangsanya untuk membedakan roh jahat dari roh Tuhan yang hidup yang mereka sembah, ketika ia memuliakan Bapa YHWH (Ul 32:6) dengan bernyanyi:

Mereka mempersembahkan korban kepada roh-roh jahat yang bukan Tuhan, kepada ilah yang tidak mereka kenal, ilah baru yang belum lama timbul, yang kepadanya nenek moyangmu tidak gentar (Ulangan 32:17).

Memang perbedaan pelaksanaan peperangan melawan kerajaan setan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam PL manusia penyembah berhalanya juga ikut dibunuh karena tidak dapat dipisahkan dari roh jahatnya. Dalam PB Yeshua, Mesias Yang Diurapi memisahkan roh jahat dari manusianya, roh jahatnya diusir sedangkan manusianya tetap dikasihi. Itulah keunikan Mesias, tentu Ia harus mempunyai kelebihan dari yang lain, apalagi Dialah Firman itu sendiri. Tetapi  ini tidak berarti kita dapat melecehkan Musa dan PL, semuanya sudah ada dalam rencana besar penyelamatan manusia oleh Bapa YHWH. Memang semuanya ini ada waktunya kata Salomo dalam Pengkhotbah 33:1.

Perjanjian Lama mencatat bahwa urapan Tuhan pada seseorang membuat roh jahat lari daripadanya. Daud yang telah diurapi oleh Samuel dan raja Saul menjadi saksi sejarah atas kebenaran ini seperti yang tertulis dalam kitab nabi-nabi:

Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya (I Samuel 16:23).

Sama seperti Daud dalam Perjanjian Lama, Yeshua anak Daud memasuki pelayanan peperangan rohani untuk mengusir setan-setan, juga setelah Ia menerima pengurapan dari Roh YaHWeH. Dokter Lukas mencatat fakta sejarah ini dengan sangat baik sebagai berikut (Hebraic Root Version New Testament: a translation of the New Testament taken from Ancient Hebrew and Aramaic Manuscripts, 2001):

"Roh YHWH ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat YHWH  telah datang." (Lukas 4:18-19).

Dalam alkitab LAI tidak terdapat YHWH karena kekurang-terbukaan LAI dalam menyikapi perkembangan baru dalam bidang arkeologi bibliologis. LAI menterjemahkan kurios (KJV Lord) menjadi Tuhan, padahal dalam naskah Aramaiknya digunakan istilah MARYAH, atau AdonYAH dalam Ibrani, yang berarti Tuan YAH yaitu YHWH.

Ada strategi yang jelas dari Yang Mulia YaHWeH Tsebaot, Panglima Tertinggi bala tentara Surga, Ia menyiapkan segala factor pendukung melaui Musa dan Ia mengirimkan MesiasNya untuk melakukan pukulan yang mematikan dalam Perjanjian Baru.

POSMA SITUMORANG :

6.6.6 MATIUS 5:21-22 : Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum

YHWH, dalam 10-Hukum melarang umat Yahudi membunuh (Hukum ke-6), tetapi Yesus menuntut lebih dalam: marahpun membawa resiko terkena hukuman! Dst. Dengan kalimat Tetapi Aku, Yesus menunjukkan bahwa otoritasNya melampaui otoritas YaHWeH, yang memberikan 10-Hukum kepada Musa!

TANGGAPAN :

Banyak orang khusus orang Kristen mudah terperosok untuk berpikir bahwa Yesus dalam ayat-ayat Matius 5 sedang melawan Musa dengan membatalkan Taurat. Inilah pentingnya bagi orang Kristen untuk mempunyai pengetahuan mengenai arti dan isi Taurat dan tatacara pelaksanaannya dalam masyarakat Yahudi. Dalam seluruh kitab Perjanjian Baru Yesus tidak pernah menentang Taurat, bahkan memakai Taurat secara tepat. Pertentangan antara kamu mendengar dan tetapi Aku berkata€™ dalam pasal ini bukanlah antara Yesus dan Musa tetapi antara tradisi cara memahami Musa yang diajarkan rabbi-rabbi yang lazim disebut halakhah dengan penafsiran Taurat Musa oleh Yesus. Mari kita cermati.

Dalam kotbahNya di bukit, Yesus menyerukan kepada orang banyak: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.(Matius 5:17)

Jelas sekali Ia tidak bermaksud menentang Taurat yang artinya pengajaran, bukan hukum. Kajian lebih mendalam terhadap perkataan meniadakan dan menggenapi menyingkapkan arti kata-kata yang sebenarnya di lingkungan bagi para pemakai aslinya. Kata-kata tersebut adalah kata-kata teksnis yang biasa digunakan dalam diskusi adu argumen di lingkungan para rabbi. Meniadakan Taurat berarti memberi tafsir yang salah terhadap Taurat; sedangkan menggenapi Taurat berarti memberi tafsir yang benar terhadap Taurat (Bivin, David dan Bilizzard Jr, Roy.1994. Understanding the difficult Words of Jesus. Revised Edition. Center for Judaic-Christian Studies, Dayton, Ohio,USA. h 114). Jelas sudah, Yesus bukan datang untuk meniadakan Taurat dengan memberi tafsir yang salah terhadap Taurat, tetapi Ia datang untuk menggenapi Taurat dengan memberi tafsir yang benar terhadapnya. Ketika Ia memberi tafsir yang benar terhadap Taurat inilah, Ia harus berhadapan dengan halakhah, yaitu peraturan lisan yang berlaku untuk menjalankan Taurat Musa. Kalau Taurat Musa diibaratkan Undang-undang, maka Halakhah adalah aturan pelaksanaan dari Taurat Musa. Halakhah adalah tafsir rabbi-rabbi mengenai cara pelaksanaan ketetapan-ketetapan dalam Taurat, yang diajarkan secara lisan (oral). Karena itu halakhah disebut juga hukum lisan. Sedangkan Taurat Musa disebut juga hukum tertulis. Jadi halakhah lisan tidak sama dengan Taurat Musa yang tertulis ! Hal ini penting diketahui oleh semua dan setiap orang Kristen!

Sekarang perhatikan baik-baik. Ketika Yesus mengatakan Kamu mendengar, Ia  sedang  berbicara tentang halakhah,bukan Taurat Musa, karena yang didengar adalah hukum lisan yaitu halakhah. Kalau benar Yesus memaksudkan Taurat Musa maka Ia akan mengatakan, Ada tertulis karena seluruh Taurat ditulis. Kalau benar demikian, pernahkah Yesus mengatakan Ada tertulis Pernah bahkan sampai tiga kali ketika Ia melawan godaan Iblis di padang gurun (Mat 4:5-11). Perhatikan Yesus memakai Taurat Musa dan Perjanjian Lama untuk melawan Iblis, dan Iblis kabur! Jangan pandang enteng Perjanjian Lama, Firman Tuhan adalah Firman Tuhan baik di PB maupun di PL. Mulialah YaHWeH!

Seharusnya sekarang sudah semakin jelas, Yesus sedang membantah penafsiran yang keliru dari para rabbi saat itu terhadap Taurat Musa dan bukan Taurat Musa itu sendiri. Taurat Musa mengajarkan. Jangan membunuh (Keluaran 20:13; Ulangan 5:18). Coba cermati apa yang disitir oleh Yesus, Jangan membunuh, siapa yang membunuh harus dihukum. Ada perbedaan bukan? Ada tambahan anak kalimat yang dicetak miring yang tidak tertulis dalam Taurat! Yesus melihat tambahan ini mengesankan bahwa yang mendapat hukuman hanyalah dosa sebesar membunuh saja padahal untuk sampai kepada dosa membunuh telah terjadi proses yang panjang, yang dimulai dengan kemarahan,kemudian menjadi kebencian, kehilangan penguasaan diri ditambah kekerasan sehingga terjadilah pembunuhan. Yesus, sang Firman yang menjadi manusia segera bereaksi, Ia mengatakan bahwa marah sebagai proses menuju kepada pembunuhan sekalipun akan dihukum. Tetapi mengapa Yesus mengaitkan membunuh dengan marah? Ia justeru mengambil dari Taurat karena Taurat dalam Kejadian 4:5 menulis bahwa awal proses pembunuhan Habil adalah kemarahan Kain. Yesus tidak sama sekali mengubah Taurat, justeru Ia meneguhkan Taurat dengan memberi tafsir yang benar untuk menjalankannya. Kesimpulan Penulis bahwa Yesus menunjukkan bahwa otoritasNya melampaui otoritas YaHWeH, di dalam terang Taurat (Pengajaran), Firman Tuhan Tertulis tidak terbukti.

POSMA SITUMORANG :

6.6.7 MATIUS 5:27-28. Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

Hukum YHWH yang ke-7 digenapi (menjadi sempurna) oleh Yesus dengan menetapkan standard-moral yang lebih luhur:bermain matapun sudah terancam hukuman! Sekali lagi, kalimat Tetapi Aku menampilkan: Yesus melampaui otoritas YaHWeH!

TANGGAPAN :

Sama seperti di atas, Yesus tidak membantah Taurat undang-undang Musa, tetapi Ia sedang membantah halakhah petunjuk pelaksanaan rabi-rabbi. Yesus memberi tafsir yang benar terhadap hokum ke-7 Jangan berzinah, ketika Ia mengatakan bahwa melihat perempuan dan mengingininya sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Perhatikan, perintah Jangan berzinah tidak pernah diubahNya, yang diperluas adalah tafsir pelaksanaan, pemahamannya.

POSMA SITUMORANG :

6.6.8 MATIUS 5:33-37: Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah dst

Hukum YHWH ke-9 disempurnakan oleh Yesus. Bersumpah jangan, berdusta dalam keseharian juga buruk akibatnya. Ini standard moral yang lebih luhur. Otoritas YHWH dilampaui oleh Yesus!

TANGGAPAN :

Ajaran Yesus tentang sumpah di sini dapat memperjelas bahwa Ia tidak melawan yang hukum tertulis, tetapi mengoreksi hukum lisan yang berlaku saat itu. Ucapan Yesus, Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan, ternyata bukan kutipan langsung dari Taurat Musa tetapi merupakan penggabungan dua ayat yang berbeda dalam Taurat, yang satu tentang sumpah palsu dan yang lainnya tentang nazar. Penggabungan dua ayat yanag berbeda menjadi satu kesatuan kalimat sudah merupakan tafsir, jadi Yesus sedang berurusan dengan penafsiran Taurat oleh rabbi-rabbi, walaupun Yesus sendiri adalah seorang rabbi juga.

Dalam Taurat Musa yang tertulis terdapat dua perintah yang kiranya menjadi sumber penafsiran tersebut oleh para rabbi: Pertama, Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Tuhanmu; Akulah YHWH  (Imamat 19:12).

Kedua, "Apabila engkau bernazar kepada YHWH, Tuhanmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah YHWH, Tuhanmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu. Tetapi apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu (Ulangan 23:21-22).

Kedua ayat tersebut benar, tidak salah sedikitpun; tetapi penggabungan keduanya menimbulkan dimensi baru yang tidak ada dalam Taurat itu sendiri. Taurat Musa melarang bersumpah palsu, ini sungguh benar. Taurat Musa mengajarkan untuk memenuhi nazar yang diucapkan dengan sukarela di depan Tuhan, inipun benar. Sumpah dan nazar memang berbeda walaupun ada pula kemiripannya. Tetapi penggabungan keduanya dibawah topik sumpah seperti yang disitir oleh Yesus dengan berkata Kamu dengar: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan telah berkonotasi agar (1) orang tidak bersumpah palsu dan (2) bersumpah serta memenuhinya di depan Tuhan. Lihat, penggabungan kedua ayat tentang sumpah dan nazar  (bersambung Part 4)