SHABBAT Tanda Perjanjian Tuhan

in Torah
17. 11. 10
posted by: Super User
Hits: 477
                                                  

Dalam Imamat 23, HaShem (Sang Nama) menetapkan 8 hari raya untuk dirayakan oleh umatNya.

Yang  pertama ditetapkan adalah hari raya mingguan yang disebut Shabbat, kemudian 7 hari raya yang dirayakan setiap tahun sekali, yaitu Pesakh, Roti Tak Beragi, Buah Sulung, Shavuot(Pentakosta), Yom Truah/Rosh Hashana (Sangkakala),

Yom Kippur (Pendamaian) dan Sukkot (Pondok Daun/Tabernakel). Dalam konteks alkitabiah, Shabbat dirayakan untuk mengingatkan bahwa Tuhan berhenti pada hari ketujuh dalam minggu penciptaan alam semesta;

dan juga untuk mengingatkan penebusan Israel dari perbudakan di Mesir (Ul 5:15). Ini berarti Shabbat tidak saja memiliki dimensi penciptaan jasmaniah tetapi juga memiliki dimensi penebusan rohaniah. Keluarnya Israel dari perbudakan Mesir  melalui korban darah anak domba Pesakh jelas merupakan suatu gambaran profetik yang menunjuk penbusan bangsa-bangsa dari perbudakan dosa oleh Mesias Yeshua. Tidaklah tepat bila dikatakan Shabbat hanya berkaitan dengan penciptaan fisik yang kemudian jatuh dalam perbudakan dosa; karena Tuhan sendiri mengaitkan Shabbat dengan penebusan dari perbudakan dosa.

Shabbat berasal dari minggu penciptaan, setelah bekerja 6 hari, Yahweh Elohim berhenti bekerja pada hari ke-7. Alkitab mengatakan Tuhan sendiri yang pertama menjalankan shabat (Kej 2:3 shin-bet-tav), berhenti dari segala pekerjaanNya. Shabbat dikenal sebelum Torah diturunkan  di Sinai kepada Musa. Sama seperti Shabbat, persepuluhan juga telah dikenal pada sebelum Torah diturunkan, hanya bedanya, persepuluhan dijalankan terus sedang Shabbat dihentikan. Tidak jelas apa kriteria yang digunakan oleh agama Kristen untuk membuat perbedaan ini.

Pola  adanya  satu hari perhentian kemudian diterapkan kepada kehidupan bangsa Israel. Bangsa ini baru dibebaskan dari perbudakan selama 430 tahun di Mesir. Mereka bekerja 7 hari dalam seminggu, tidak ada hari istirahat, tidak ada perhentian. Itulah kehidupan budak.  Setelah merdeka oleh darah domba yang dilaburkan pada ambang pintu pada hari raya Pesakh, Israel diminta mengubah cara hidup mereka, bekerja 6 hari dan berhenti pada hari ketujuh yaitu Shabbat. Dengan demikian Shabbat bukan saja mengandung dimensi penciptaan tetapi juga dimensi penebusan! (Ul 5:15). Pada hari itulah mereka menikmati kemerdekaan mereka dengan menikmati perhentian, baik batiniah maupun jasmaniah.

Ada empat hal yang kita lihat pada Shabbat:

1.Shabbat adalah Tanda Perjanjian

Shabbat sudah ada sejak minggu penciptaan, tetapi itu baru disebut sebagai tanda perjanjian setelah Perjanjian Sinai (Kel 31:13). Di Sinai Yahweh Elohim memberikan Torah (=Pengajaran) kepada Israel. Torah adalah pengajaran yang berisi prinsip-prinsip hidup kudus bagi Tuhan. Torah yang diwakili oleh 2 log batu 10 Firman itu juga merupakan Perjanjian Nikah (Ibr ketubah) antara Tuhan dengan umatNya Israel. Sama seperti perjanjian nikah suami dan isteri, suami satu-satunya dan isteri satu-satunya, demikian Yahweh Elohim adalah satu-satunya Tuhan bagi Israel; dan Israel adalah umat Tuhan yang dikuduskan dari umat lainnya. Agar dapat terus diingat, Tuhan memberikan tanda satu hari setiap minggu yang disebut hari Shabbat. Sebagai tanda perjanjian, sejarah menunjukkan bahwa adalah  Shabbat yang memegang bangsa Yahudi dan bukan bangsa Yahudi yang memegang Sabbat. Sinagog bisa dihancurkan, namun selama Shabbat tetap ada dalam keluarga Yahudi, bangsa ini tidak pernah musnah.

2.Shabbat merupakan Gambaran Messias

Sejak penciptaan Yahweh Elohim telah memakai Sabbat sebagai waktu perhentian, tidak ada pekerjaan apapun yang dapat dilakukan. Di sini ada rahasia tentang Mesias. Yeshua mengatakan bahwa Anak Manusia adalah Junjungan atas hari Sabbat (Mat 12:8). Ia juga berkata, Datanglah  kepada-Ku, semua orang yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi perhentian kepadamu (Mat 11:28). Shabbat merupakan gambaran perhentian kita dalam pekerjaan Yeshua yang telah selesai. Orang percaya telah berhenti dari usaha diri sendiri (self effort) yaitu âenam hari bekerja untuk merebut hati Tuhan , meninggalkan semua itu dengan memasuki perhentian Mesias.

  1. Dirayakan setiap minggu dalam kebebasan

Shabbat dirayakan setiap hari ketujuh (Im 23:1-3), mulai Jumat pk 18.00 sampai Sabtu pk 18.00. Setiap minggu kita diingatkan bahwa Tuhan adalah Pencipta langit dan bumi dan Ia memberi teladan untuk berhenti satu hari dari pekerjaanNya. Ia juga Penebus kita dari perbudakan. Bahwa kitapun memerlukan istirahat dan kemerdekaan rohani maupun jasmani pada hari Sabat.

Banyak orang menyangka pada hari sabat orang tidak boleh melakukan apapun, hanya termenung yang sungguh membosankan. Firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang melakukan pekerjaan pada hari Shabbat akan dihukum mati. Ini mengerikan bagi orang bukan Ibrani, seakan-akan tidak boleh ada pekerjaan apapun bila tidak mau dihukum mati. Tetapi itu adalah anggapan orang yang hanya mendengar dari orang lain tanpa menyelidikinya sendiri. Perkataan Ibrani yang dipakai untuk pekerjaan adalah mlakah yang artinya pekerjaan rutin untuk mencari nafkah. Istilah lain adalah avodah yang berarti kegiatan ibadah atau pelayanan. Firman Tuhan tidak melarang avodah,ibadah atau pelayanan tetapi melarang mlakah, bekerja rutin mengejar nafkah. Yeshua memberi tafsir yang tepat terhadap Torah, memetik tangkai gandum seperti yang dilakukan murid-muridNya dan menyembuhkan orang sakit dengan Firman yang dilakukannya bukanlah pekerjaan yang termasuk kategori mlakah.

4.Berkat dan Kemenangan dari Atas

Israel mendapat berkat manna dua kali lipat pada hari keenam (Kel 16:22) untuk memelihara Sabat, kita juga akan mendapat berkat ganda saat kita mengindahkan perintah YHWH Elohim.

Pada hari Shabbat kita mengisi hati dan pikiran kita dengan Firman dan Perintah Tuhan, dia adalah Junjungan hari Shabbat. Ketika melakukan perintah sabat, kita melayani Tuhan, kita memegang perjanjian. Itulah yang menyebabkan hati kita dipenuhi sukacita. Jika kita melakukannya dengan sikap yang mengindahkan ketetapanNya sesuai dengan rancangannya, tidak mengikuti keinginan kita sendiri, Ia akan membawa kita melampaui puncak-puncak tantangan dalam kendaraan kemenanganNya (Yes 58:13-14).

Shabbat juga dirayakan oleh orang asing yaitu bangsa-bangsa bukan Israel yang hidup bersama mereka (Ul 5:14). Dengan demikian, Shabbat bukanlah monopoli bangsa Israel tetapi bagi siapa saja yang menghargai baik penciptaan Tuhan maupun penebusanNya. Setelah bangsa-bangsa menerima injil keselamatan yang diberitakan para rasul, Konsili  di Yerusalem menyepakati bahwa orang beriman kepada Yeshua HaMashiakh perlu mengikuti pengajaran (Ibr Torah) yang diberikan di sinagog pada setiap hari Shabbat (Kisah Rasul 15:21).

Tetapi bukankah kitab rasuli menunjukkan bahwa murid-murid berkumpul pada hari pertama seperti yang dilakukan Paulus di Troas? (KR 20:7). Agar tidak tergelincir di sini, kita harus ingat bahwa sistem kalender yang digunakan oleh penulis-penulis Kitab Suci bukanlah kalender Romawi (Julian-Gregorian) yang menetapkan penggantian hari dimulai jam 24 atau 00, tetapi menggunakan kalender Ibrani. Menurut perhitungan kalender Ibrani, hari Shabbat dimulai dari Jumat jam 18 sampai Sabtu jam 18. Dengan demikian hari pertama (Minggu) dimulai dari Sabtu jam 18 setelah matahari terbenam. Ini menunjukkan bahwa setelah Paulus dan orang percaya melakukan Penutupan Shabbat (Ibr. Havdalah) mereka melanjutkan lagi dengan acara persekutuan alias tamah-ramah untuk memecah roti yang tidak lain adalah makan bersama (KR 20:11). Memecah roti bukanlah perjamuan kudus seperti yang disangka orang Kristen abad 21. Acara tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu malam Minggu sesudah jam 18, yang menurut kalender Ibrani sudah dihitung hari pertama minggu itu.

Sebagai hari raya di lingkungan Ibrani,  Shabbat merupakan hari istimewa. Pada umumnya dalam hari Shabbat ada tiga acara pokok, yaitu Jamuan Petang Shabbat (Erev Shabbat) sebagai pembukaan; Ibadah Shabbat pagi; dan Penutupan Shabbat (Havdalah).

1.Jamuan Petang Shabbat (Erev Shabbat)

Jamuan ini biasanya dilakukan di keluarga masing-masing, namun dapat juga dilakukan dalam kelompok atau jemaat. Meja jamuan ditata dengan

rapih bagaikan suatu pesta penting. Memang penting karena ini dilakukan untuk mentaati perintah Yahweh Elohim.

Jamuan Erev Shabbat dibuka oleh ibu/isteri dengan menyalakan terang lilin untuk mengingatkan Janji Tuhan bahwa Terang Dunia datang dari wanita. Acara selanjutnya dipimpin oleh ayah/suami sebagai imam keluarga. Suami akan memilih 1-2 lagu pujian kepada Tuhan. Setelah itu ia akan mengucapkan berkat anggur, diikuti minum anggur oleh anggota keluarga. Kemudian ia mengucapkan berkat roti yang diikuti dengan makan roti oleh seluruh keluarga. Berikutnya, ayah mengucapkan berkat bagi anak laki-laki dan perempuan. Setelah itu, ayah dan anak-anak memberi penghargaan kepada isteri dengan membaca Amsal 31:10-31 sambil berdiri sementara sang isteri tetap duduk. Selanjutnya seluruh keluarga membaca Mazmur 23 Yahweh adalah Gembalaku. Barulah setelah itu makan malam disuguhkan setelah ayah mengucupkan berkat makanan. Setelah makan, seluruh keluarga menyanyikan lagu-lagu pujian dan melakukan tanya jawab mengenai pengajaran Tuhan.

Erev Shabbat menunjukkan peran ayah sebagai imam keluarga yang memimpin keluarga mentaati perintah Tuhan, memberkati anak-anak, menghargai isteri dan memimpin tanya jawab hal rohani dengan anak-anak. Isteri mendukung ketaatan suami dengan menyiapkan meja hidangan dengan rapih dan menarik sehingga anak-anak merasakan suasana pesta sukacita.

2.Ibadah Shabbat pagi

Ibadah Sabtu pagi umumnya dilakukan secara formal bersama jemaat. Tatacara ibadah mengikuti Siddur yaitu buku doa orang Yahudi. Tatacara dapat bervariasi, liturgi dapat berbeda dari jemaat ke jemaat.Beberapa unsur yang sama adalah Shema Israel (Dengar Israel) dan V’ahavta, Pembacaan Mazmur, Doa / Amidah, Pembacaan Torah, Haftarah (kitab Nabi-nabi) serta kitab Rasuli, Kotbah dan Ringkasan Iman/Yigdal. Jelas terlihat bahwa liturgi yang dikenal dalam gereja Reform berasal dari Ibadah Shabbat di sinagog.

Ibadah Shabbat pagi secara Ibrani telah diselenggarakan setiap Sabtu jam 10 pagi oleh Shoresh Messianic Fellowship (021-73 64258) di Intiland Tower Jalan Sudirman Kav 32.Pintu Masuk Bank Mandiri Lt 2 Ruang 5 Ibadah tersebut terbuka untuk seluruh keluarga termasuk anak-anak.

3.Penutupan Shabbat (Havdalah)

Penutupan Shabbat dapat dilakukan di rumah ataupun bersama jemaat saat matahari telah terbenam.Bila dilakukan dalam keluarga, havdalahakan selesai dalam waktu 15 menit saja. Dimulai dengan pembacaan ayat-ayat dari kitab Yesayah, Mazmur dan Ester, havdalah melibatkan pengucapan berkat atas anggur, atas rempah-rempah dan atas lilin. Anggur menyatakan sukacita hari Sabbat, tanda perjanjian dengan Elohim.Rempah-rempah menunjuk pada keharuman Shabbat yang akan dibawa menggarami sepanjang minggu berikutnya. Lilin khusus Havdalah yang merupakan jalinan dua lilin menunjuk pada kesatuan yang didapat dalam Shabbat, antara Tuhan dengan umatNya dan antara anggota-anggota keluarga. Ayat pertama yang dibaca yaitu Yesayah 12:2-3 menempatkan bangsa Israel untuk mengucapkan nama Yeshua dalam bentukyeshuati (keselamatanku) dan ha-yshua (keselamatan itu). Sebelum Yeshua datang, melalui nabi Yesayah dan imam Ezra Tuhan telah menaruh Yeshua dalam mulut bangsa pilihanNya.

Umat Kristen dapat saja beribadah hari Minggu dan hari-hari lainnya, tetapi hari-hari itu tidak dapat dipandang sebagai hari Shabbat karena hari Shabbat tetap dimulai pada Jumat petang sampai Sabtu petang. Saat ini beberapa gereja Kristen di luar Advent Hari Ketujuh yang mengadakan ibadah Shabbat (Sabtu) dan juga ibadah Minggu. Hal ini terlihat pada beberapa jemaat lokal Gereja Pimpinan Roh Kudus (GPR) dan GBI Bumi Bintaro Permai.

Di Indonesia  pada umumnya orang masih tetap bekerja pada hari Sabtu, walaupun banyak juga kantor yang libur. Pelaksanaan Shabbat memang akan dimudahkan bila seluruh komunitas melaksanakannya, misalnya seperti di Yerusalem. Tetapi apakah dengan demikian perintah Tuhan tentang Shabbat tidak dapat dijalankan sama sekali di Indonesia? Agaknya tidak demikian. Sekalipun masih bekerja, kita masih dapat melakukan dua langkah berikut:

Pertama, mengurangi beban kerja pada hari Sabtu denga cara memintahkannya ke hari-jhari lainnya. Sebagai contoh, kegiatan rutin belanja dapat dipindahkan ke hari lain sehingga Sabtu terasa lebih ringan.Waktu yang tersedia dapat digunakan untuk ibadah dan keluarga.

Kedua, mengambil sedikitnya satu dari tiga acara yang biasa dilakukan pada hari Shabbat, yaitu Jamuan Erev Shabbat, Ibadah Shabbat pagi, dan Penutupan Shabbat (Havdalah). Dengan melakukan dua hal tersebut, walaupun belum sempurna kita telah berusaha mentaati perintah Tuhan dalam kasih. Tuhan yang mengetahui isi hati kita akan menolong dan memberi jalan keluar kepada kita seperti yang difirmankanNya melalui nabi Yesayah:

Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat "hari kenikmatan", dan hari kudus YHWH "hari yang mulia"; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong,

maka engkau akan bersenang-senang karena YHWH, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya.(Yesayah 58:13-14)

(Oleh : Ir Benyamin Obadyah, MURP )